Selasa, 07 Oktober 2008

Liburan

Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Feby-Cello-Cindy

Ini koleksi foto-foto selama liburan sekolah (Juni-Juli'08) dan libur Lebaran (September-Oktober'08)


Bulan Juni 2008 Cello mudik ke Muntilan. Cello juga ke Jogja.

Belajar main gitar dan piano sama Koh Evan. Koh Evan jago lho mainnya....


Main-main di Kid's Fun Jogja... Asik banget...!


Metik belimbing di kebunnya Mamah Ien.


Pemandangannya bagus ya... sayang Gunung Merapinya ketutup awan...



Bulan Juli 2008 Cello ke Jakarta. Main ke Mall, Ancol, Kidzania...

Main air di Ancol sama Ku Yang, Ko Evan, Ko Ian, Ci Ie.


Di Kelapa Gading Mall, makan Es Krim...


Cello sama cici Stefie


Cello sama Koko Vincent.



Libur Lebaran 2008 Cello ke Candi Gedong Songo dan nginep di Bandungan. Udaranya diiingiiin banget!

Naik Kuda sama Papah & Cik Febby sambil liat Candi Gedong Songo.


Di villa ada kolam ikannya, mancing dulu ah.... Lho, tapi kok gak dapet ikan...?


Pagi-pagi, jalan-jalan sama Papa-Mama.


Main layangan sama Papah.


Malemnya main kembang api. Asik....


Kalo lagi males main, Cello menggambar. Krayon dan kertas harus selalu ada di tas.


Capek. Bobok dulu ya... zzzzzzzz.....

Read More..

Minggu, 25 Mei 2008

Mainan dari Kotak Susu

Oleh: Christine

Foto: Christine, 2008, Robot

Beberapa waktu yang lalu Cello terserang batuk-pilek. Badannya agak panas, susah makan, dan jadi kurang aktif. Beruntung Cello tidak rewel, hanya sering minta digendong saja.





Sebagai pengganti aktivitas di luar aku mencoba membuatkan mainan baru yang bisa membuat Cello ceria kembali. Mainan ini dibuat dari kotak-kotak susu UHT yang diisi kertas Koran kemudian dirangkai menjadi bentuk tertentu. Cara mengisi lihat di sini dengan judul Mainan dari Sampah-1.

Waktu itu Cello minta dibelikan mainan berupa miniatur gedung parkir, tapi karena sesuatu dan lain hal kami belum membelikannya. Lalu aku mencoba menirunya dengan menggunakan kotak susu yang dirangkai dengan bantuan selotip. Ternyata hasilnya lumayan juga, walaupun sebenernya gak mirip sama sekali…. Tapi yang penting Cello suka dan enjoy memainkannya.

Setelah bosan dengan gedung parkir, dengan sedikit bongkar-pasang, kotak-kotak susu itupun berubah menjadi robot yang manis….

Read More..

Selasa, 13 Mei 2008

BELAJAR DARI KOMPOS


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Ikut-ikutan Ngompos

Sejak awal berkompos, Cello selalu terlibat dalam setiap kegiatanku. Ternyata dari sini banyak hal yang bisa dielajarinya. Dari ketrampilan motorik hingga pengetahuan tentang tumbuhan dan bahan kompos.



Cello selalu ikut dalam setiap kegiatan berkomposku. Awalnya aku sangat kerepotan karena pekerjaan jadi lebih lama dan tempat jadi super berantakan. Tapi karena kegiatan ini berlangsung hampir setiap hari, lama-kelamaan aku jadi terbiasa juga. Lagian, dengan bertambahnya umur Cello sudah dapat diberi pengertian tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak. Walaupun belum 100% sesuai dengan harapanku tapi “kekacauan” yang ditimbulkan masih dapat ditoleransi.

Ternyata dari kegiatan berkompos bersama ini ada banyak hal yang dapat dipelajari oleh Marcello. Dari ketrampilan motorik hingga pengetahuan tentang tumbuhan dan bahan kompos.

Saat pertama kali aku membuat kompos, Cello belum bisa memegang gunting. Setiap hari dia selalu melihat aku menggunting daun kering. Lalu dia mencoba menirukan aku menggunting daun kering. Hhhh! Rasanya miris lihat anak kecil pegang gunting, takut kena tangan… Dengan banyak kesabaran dan banyak ketegangan akhirnya berhasil juga aku ngajari Cello menggunting. Sekarang, Cello sudah mahir menggunting. Pernah suatu hari papanya mau pake baju baru yang masih ada gantungan mereknya. Baju itu ditaruh diatas kasur, tahu-tahu Cello sudah duduk di kasur dengan memegang gunting. Papanya sudah kuatir jangan-jangan baju barunya digunting…. Ketika dihampiri, Cello menyodorkan gantungan merek baju ke papanya, katanya, “Ini pah, yang ini ndak bisa dipakai…” Papanya sampai terheran-heran, Cello tahu kalau gantungan merek harus dibuang dulu dan dia mengguntingnya tanpa mengenai kain baju.
Pelajaran: ketrampilan motorik Cello terasah lewat menggunting daun kering.

Setiap pagi dan sore (kecuali kalo lagi males) aku mengumpulkan daun mangga yang berjatuhan. Daun itu aku kumpulkan dalam satu wadah untuk kemudian digunting kecil-kecil. Saat itu Cello lagi maen di bawah pohon mangga, tiba-tiba dia lari menghampiriku dengan membawa beberapa daun kering sambil berkata, “Mah, ini Mah, daunnya untuk kompos.”
Pelajaran: Cello tahu bahwa daun kering adalah bahan kompos

Selain sayuran, kadang aku juga memasukkan bunga mawar yang sudah layu sebagai bahan kompos. Cello yang waktu itu lagi asik menggunting sayuran berkata, “Mah, ini kelopaknya dipotong-potong juga ya?”. Aku sempat bingung karena merasa hari ini aku tidak memotong bunga mawar. “Kelopak yang mana?” kataku. “Yang ini”, jawab Cello sambil mengangkat sawi putih yang masih menempel di bonggolnya.
Pelajaran: Cello tahu bahwa ada kelopak yang lain selain kelopak bunga.

Dalam melakukan aktivitas berkompos aku selalu menceritakan kepada Cello apa yang sedang kulakukan, tidak perduli dia mudeng atau tidak. Waktu itu aku lagi menambah bahan kompos dan mengaduknya. Cello bertanya; “Mah, itu nanti daunnya jadi busuk dimakan bakteri ya Mah?” Aku sempat kaget juga, kok tahu….. Jadi ternyata selama ini “ocehanku” tentang apa yang sedang kulakukan terekam dengan baik di memorinya….
Pelajaran: Cello tahu bahwa kompos dihasilkan dari proses pembusukan (tepatnya, fermentasi).

Belajar tidak harus dilakukan di sekolah. Di rumah anak juga bisa belajar. Bahan pelajaran tidak harus dari buku pelajaran. Anak dapat belajar banyak hal dari Sampah.

Read More..

Kamis, 08 Mei 2008

AKHIRNYA DATANG JUGA...

Oleh:Christine
Foto: Xpose Photo Fashion, 2006, Superman

Penantian panjangku berakhir pada tanggal 27 April 2005 pukul 07.58wib. Wajah imut anakku menghapus semua "penderitaan" saat hamil.


Semula kehamilanku begitu menyenangkan. Tanpa ngidam, tanpa morning-sick. Semua makanan 'disikat', hanya porsinya saja yang kecil. Makan sedikit tapi sering.

Masalah mulai timbul saat usia kehamilanku menginjak usia 6 bulan. Terjadi perdarahan berupa flek coklat selama beberapa hari. Kata dokter, gerakan bayiku sangat aktif sehingga menyebabkan sebagian plasenta terlepas. Aku harus bed-rest total di Rumah Sakit St. Elizabeth Semarang. Flek coklat hilang sekitar satu minggu. Pada hari ke-10 aku diijinkan pulang.

Baru merasakan satu hari tidur di Rumah, aku mengalami perdarahan lagi. Kali ini berupa darah segar. Waduh, paniknya bukan main! Perasaan ‘takut kehilangan’ sangat kuat. Beruntung suamiku, Benny, selalu memberiku semangat untuk "bertahan". Aku harus opname lagi. Kali ini tidak tanggung-tanggung, 24 hari!

Aku tanya sama dokterku, kenapa perdarahan kedua lebih lama 'sembuhnya'? Dokter bilang, semestinya dengan bed-rest total plasenta yang terlepas bisa menempel kembali dengan baik tapi karena faktor usia (saat hamil aku sudah masuk "usia rawan kehamilan") dan gerakan bayiku yang aktif, plasenta tidak dapat menempel dengan sempurna.

Aku berusaha "menikmati" opnameku yang kedua, paling tidak berusaha berpikir positif-lah. Membayangkan aku lagi nginep di hotel, bukan di Rumah Sakit. Meyakinkan diri bahwa opname selama beberapa minggu tidak ada apa-apanya dibandingkan penantian selama 8 tahun. Setelah dinyatakan "kuat" aku boleh pulang, dengan catatan tetap banyak istirahat dan tidak melakukan pekerjaan berat.

Kali ini aku "nginep" di rumah agak lama, sekitar 3 minggu hingga akhirnya terjadi perdarahan lagi disertai kontaksi dan mules-mules. Aku mengira, anakku sudah minta dilahirkan. Aku berangkat lagi ke RS sebagai seorang ibu yang siap melahirkan. Setelah sampai di RS dan diperiksa, aku jadi sangat kecewa karena mules dan kontraksi yang kurasakan bukan tanda-tanda akan melahirkan tetapi ulah si plasenta lagi. Aku harus opname lagi untuk menyelamatkan bayiku.

Rasanya aku sudah mau menyerah saja. Capek harus opname terus. Harus tidur terus, duduk gak boleh, berdiri apalagi. Opname yang ketiga ini aku agak "bandel", harusnya kan gak boleh duduk, tapi aku kalo pegel ya duduk aja. Wis, terserah apapun yang akan terjadi....

Rupanya bayiku juga udah "pegel" di dalam perutku terus. Genap seminggu aku opname yang ketiga, tiba-tiba saja ketubannya pecah dan anakku harus segera dilahirkan. Huah! bingung banget! Ginama nih, kan belum waktunya.. usia kandungan baru 35 minggu dan terakhir di USG berat bayi baru 2,1kg. Aduh, anakku lahir prematur....

Rabu wage, 27 April 2005, 07.58wib, melalui operasi sesar, yang dilakukan oleh dr. Lilien Eka Chandra SpOG, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil dengan berat badan 2,3kg dan panjang 45,5cm. Bagi kami bayi itu seperti harta karun yang terpendam di dasar laut dalam dan Tuhan telah mengijinkan kami untuk mengangkatnya. Sebagai harta keluarga yang tak ternilai, bayi imut itu kami beri nama Emmanuel Marcello Adi Susanto.

Read More..

Minggu, 04 Mei 2008

SEBUAH PENANTIAN



Oleh: Christine
Foto: http://www.babybeddingtown.com

Dulu, aku pernah berangan-angan kalo sudah menikah nanti aku ingin punya anak lebih dari empat! Kenapa begitu?

Aku empat bersaudara yang tinggal di sebuah kota kecil. Sekolah tertinggi yang ada di kotaku adalah SMA, itupun hanya ada 2-3 SMA sehingga jika ingin melanjutkan ke sekolah lain harus ke luar kota.

Satu per satu kami berempat meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah. Karena aku anak ke-3 maka aku sempat merasakan sepinya hidup berdua dengan adikku. Saat itulah aku sempat "mbatin" kelak aku mau punya anak banyak, biar rumahnya rame karena ternyata empat orang anak masih sepi.

Tahun 1996 aku menikah. Aku berharap segera punya momongan sehingga "target anak banyak" segera tercapai. Tapi manusia berencana Tuhan yang menentukan. Aku masih harus menunggu selama delapan tahun sampai akhirnya Tuhan mengijinkan aku untuk hamil.

Sueeneenge pol!!! Walaupun keinginan punya anak banyak tidak tercapai tapi aku sangat-sangat-sangat bersyukur Tuhan sudah memberiku kesempatan untuk jadi orang tua.

Aku percaya bahwa mujizat itu nyata dan pertolongan Tuhan indah pada waktunya...

Read More..